Posted by: chamatz | December 13, 2008

Hikmah ‘Idhul Adha (part-2)

Bismillah Ar-Rohmaan Ar-Rohiim

Allahu akbar..Allahu akbar..Allahu akbar

Laa ilaaha illallah

Allahu akbar

Wa lillahil hamd

Setelah pada postingan sebelumnya, beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan saat merayakan lebaran kurban, maka tentunya ada beberapa hikmah pada saat hari raya ’Idhul Adha. Jangan kita jadikan moment ’Idhul Adha dilalui begitu saja tanpa membekas di hati kita. Beberapa hikmah di antaranya akan dijabarkan di bawah ini.

Kalimat takbir yang dikumandangkan umat muslim di seluruh penjuru dunia menghiasi hari raya ’Idul Adha. Bahkan kalimat takbir tetap dilakukan sampai tiga hari setelah itu yang merupakan hari tasyrik di mana pada hari tasyrik diharamkan berpuasa bagi umat muslim. Dengan kalimat takbir, maka kita mengakui hanya Dia-lah Allah, Tuhan Yang Maha Besar. Kita hanyalah makhluk kecil di hadapan-Nya. Kita tidak dapat berbuat apa-apa selain dengan kekuatan yang telah diberikan oleh-Nya.

Kalimat takbir yang diucapkan melalui lisan, selayaknya juga diucapkan dengan hati, sehingga kita pun mengetahui bahwa kita hanyalah makhluk yang lemah di hadapan-Nya. Selain itu, dengan mengucapkan takbir diharapkan kita dapat beryukur dan dapat mengurangi sifat kesombongan yang ada pada diri kita, karena kesombongan merupakan pakaian yang hanya pantas dimiliki oleh-Nya, Allah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Dengan semakin bersyukur, insya Allah kita bisa menjalani hidup ini dengan indah tanpa kesombongan, karena segala sesuatu yang ada di dunia ini merupakan pemberian dari-Nya, Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih. Ada suatu kisah yang menerangkan betapa indahnya kalau kita bersyukur.

Pada suatu pagi, ada dua orang yang berolahraga jogging. Kemudian, mereka berhenti sebentar di warung nasi uduk untuk sarapan. Pada saat menerima nasi uduk dan memakannya, orang pertama berpikir, ”Nasi uduk lagi, nasi uduk lagi, lauknya cuma orek tempe pake telor mulu. Kapan ya lauknya nasi uduk tuh pake rendang?”. Namun, lain pendapatnya pada orang yang kedua, dia berpikir, ”Alhamdulillah, makan nasi uduk, pake telor lagi. Tanpa lauk pun nasi uduk udah enak. Terasa santannya. Betapa nikmatnya nasi uduk ini untuk sarapan.”. Dari cerita tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada waktu yang sama, di tempat yang sama, makan makanan yang sama, ternyata terdapat perbedaan. Lalu di mana letak perbedaannya? Ternyata perbedaannya hanya satu hal, rasa syukur. Orang yang pertama kufur nikmat sehingga makanan yang ada tidak dapat dinikmati olehnya. Sedangkan orang yang kedua syukur nikmat sehingga makanan yang disuguhkan dapat dinikmati senikmat-nikmatnya.

Mudah-mudahan dengan moment lebaran kurban yang telah dilalui, kita dapat meningkatkan rasa syukur kita kepada-Nya. Dengan demikian, diharapkan hari-hari yang dijalani terasa ringan dan terasa menyenangkan sehingga kita dapat menjalankan segala macam amanah dengan baik.

Hikmah selanjutnya adalah kita dapat memberikan pelayanan kepada sesama. Dengan adanya penyembelihan hewan kurban, tentunya sebagian daging yang dipotong diberikan kepada kaum dhuafa di sekitar. Dengan demikian, kita pun membantu meringankan beban mereka.

Lalu, kita juga bisa memetik pelajaran tentang birrul walidain. Berbuat baik kepada orang tua merupakan kewajiban bagi setiap anak. Karena dari merekalah setiap manusia (kecuali Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa) dilahirkan di dunia. Setelah dilahirkan, orang tua akan mengasuh anaknya sehingga dia dewasa. Mereka mengasuh dan menafkahi sang anak sehingga dia menjadi dewasa.

”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” [Q.S. Luqman(31) : 14]

Jika kembali kepada sejarah apa yang menyebabkan moment ‘Idul Adha, maka kita dapat mengetahui cerita tentang Nabi Ibrahim a.s. yang akan mengurbankan anaknya Nabi Ismail a.s. Saat itu, setelah sekian lama Nabi Ibrahim tidak memiliki anak, maka Allah swt pun mengkaruniakan seorang anak kepadanya. Nabi Ismail yang selama ini ditunggu oleh Nabi Ibrahim, namun Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih anaknya. Lalu apa pendapat Nabi Ismail setelah mendengar kabar ini? Dia pun rela, ikhlas, dan ridho, demi apa pun yang diperintahkan oleh orang tuanya kecuali perintah untuk bermaksiat dan menyekutukan Allah.

Dari kisah tersebut, dapat dilihat betapa seorang anak yang sholeh selalu menuruti perkataan orang tuanya walaupun sampai harus mengorbankan apa pun kecuali melakukan maksiat dan menyekutukan Allah, maka seorang anak harus menolaknya tapi dengan cara yang halus jangan sampai menyakiti orang tuanya.

Namun, realita yang terjadi saat ini kebanyakan sungguh ironis. Bahkan, Rasulullah saw pernah bersabda bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah seorang budak melahirkan majikannya. Jika dilihat pada zaman dahulu, peristiwa ini menceritakan bahwa ada seorang laki-laki merdeka yang menikah dengan seorang budak wanita sehingga wanita tersebut menjadi merdeka. Namun, pada saat ini, maksud dari peristiwa tersebut adalah banyak sekali anak-anak muda yang memperlakukan orang tuanya seperti budak. Sang anak hanya pergi wira-wiri ke sana ke mari sesuka hatinya, sedangkan ibunya selalu bekerja membersihkan rumahnya, menyiapkan makanannya, dan lain-lain untuk keperluan sang anak, namun sang anak tidak pernah mengingat ibunya. Jika orang tuanya kaya, maka sang anak menjadi raja karena apa pun yang diminta diberikan oleh orang tuanya. Namun, jika sang anak yang menjadi kaya, dia benar-benar menjadi ”majikan” atas ibunya sendiri. Dia pergi bekerja setiap harinya, mencari nafkah buat istri dan anaknya, namun dia melupakan keberadaan orang tuanya.

Mudah-mudahan kita semua masih bisa melakukan yang terbaik untuk orang tua kita. Yuk mari kita sama-sama menjadi seorang anak yang sholeh dan sholehah sehingga insya Allah kita dan orang tua kita dapat berkumpul kembali di surga-Nya nanti.

Hikmah selanjutnya dari moment ’Idul Adha adalah kita dapat mengikis sifat kehewanan kita. Dengan menyembelih hewan kurban, maka dapat diambil hikmahnya tentang pengikisan sifat kehewanan pada diri manusia. Jika dilihat pada diri hewan, dia tidak terbungkus oleh suatu kain. Sedangkan manusia, di dalam kehidupan sehari-harinya memakai pakaian yang rapih. Dengan demikian kita dapat memetik hikmah bahwa manusia seyogyanya menutupi aurat, karena manusia itu ya manusia, bukan hewan. Setelah moment ini diharapkan manusia lebih banyak yang memakai hijab untuk menutupi auratnya. Untuk yang laki-laki mungkin lebih mudah tinggal memakai baju dan celana yang menutupi aurat sudah cukup. Namun, untuk seorang perempuan diharapkan memakai jilbab untuk menutupi auratnya.

Demikianlah beberapa hikmah yang mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf bila ada salah kata dan telah menyinggung hati pembaca.

”Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” [Q.S. Al-Baqoroh(2) : 147]

Wallahu ’alam


Responses

  1. do visit my blog on quran, tafsir, ijtihad, islam, muslims…

    http://munir123.wordpress.com

    please pass around – thank you

    Indra :
    OK, i’ll visit there..
    Thank you..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: